Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » » Astaganagrong ...... Redenominasi Mulai Akrab, Rp 100.000 Jadi Rp 100 K, Seputaran Bali Sangat Lumrah Terjadi

Astaganagrong ...... Redenominasi Mulai Akrab, Rp 100.000 Jadi Rp 100 K, Seputaran Bali Sangat Lumrah Terjadi

Written By Dre@ming Post on Rabu, 07 Desember 2011 | 12:45:00 PM

Rabu, 07/12/2011 12:49

Jakarta - Proses menghilangkan 3 angka nol dalam mata uang rupiah  yang menjadi tujuan dari redenominasi sebenarnya sudah mulai terjadi di masyarakat. Di berbagai restoran atau kafe, kuotasi tiket pesawat, 3 angka nol sudah terbiasa dihilangkan untuk mempermudah.

Jika kita berkunjung ke sebuah coffee shop di mal ataupun kafe sudah banyak yang menghilangkan satuan ribu atau tiga angka nol dibelakang nilai sebuah barang atau makanan. Bahkan di seputaran Bali seperti di Legian, Kuta hingga Sanur sudah sangat lumrah hal ini terjadi.

Ekonom Drajad Wibowo meyakini menghilangkan tiga nol itu sangat bisa dan bukan merupakan hal mustahil. Secara psikologis, sebenarnya masyarakat sudah menganggap tiga angka nol hilang.

"Bahkan dalam banyak kasus restoran dan cafe, atau kuotasi tiket peswat, secara psikologis tiga nol tersebut sudah dianggap hilang. Dalam kuotasi tersebut angka ribuan ratusan dan satuannya dibuat lebih kecil dari angka puluhan ribu atau ratusan ribunya," ungkap Drajad ketika berbincang dengan detikFinance di Jakarta,
Rabu (7/12/2011).

Contohnya, Rp 100.000 ditulis menjadi Rp 100 K atau Rp 25.000 menjadi Rp 25 K. "Jadi dianggap hilang, dengan kata lain, dalam sebagian masyarakat sebenarnya sudah terjadi redenominasi de facto," paparnya.

Karena itu, Drajad menyampaikan redenominasi sebenarnya bisa direalisasikan lebih cepat. Tinggal sekarang bagaimana BI mengintensifkan edukasi kepada masyarakat yang lebih luas bahwa redenominasi ini bukan sanering atau penurunan nilai mata uang.

"Selain itu perlu dibuat sistem monitoring agar selama masa transisi redenominasi, tidak ada inflasi yang tidak perlu. Maksudnya, dengan redenominasi bisa saja sebagian produsen dan pedagang mencuri-curi menaikkan harga dengan berlindung dibalik pembulatan," jelas Dradjad.

"Contohnya, harga barang awalnya Rp 1.260 dengan redenominasi, teorinya harga dibulatkan menjadi Rp 1.30. Jadi sudah ada inflasi di sini. Tapi bisa saja
pembulatannya malah menjadi Rp 1.50. Akibatnya terjadi inflasi yang tidak perlu, nah Kemkeu dan BI perlu menyiapkan langkah antisipasi untuk menekan inflasi yang tidak perlu ini," imbuhnya.

Proses redenominasi alias penyederhanaan nilai mata uang rupiah dengan menghilangkan beberapa angka nol segera masuk dalam pembahasan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Bank sentral telah mengungkapkan bahwa proses redenominasi yang akan dilakukan teknisnya akan menghilangkan tiga angka nol dalam rupiah. Misalkan saja Rp. 1000 akan menjadi Rp 1.




sumber : detik
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

TNI Turun Tangan Memperketat Pos Jaga Gunung Agung

Gunung Agung AMLAPURA - Banyaknya warga yang berada di kawasan rawan bencana (KRB) memilih balik ke rumah daripada tinggal di pengungs...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen