Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » » 1 Korban Terseret Masih Hilang

1 Korban Terseret Masih Hilang

Written By Dre@ming Post on Selasa, 15 November 2011 | 5:38:00 AM

Selasa, 15 Nopember 2011, 05:29

TABANAN - Satu dari tujuh bocah korban terseret arus saat mandi di Sungai Yeh Empas, Tabanan, Minggu (13/11) sore, Dinda Mulia Pamungkas, 9, belum juga ditemukan. Sedangkan adiknya, Satrio Arya Pamungkas alias Rio, 5, yang sebelumnya ditemukan tewas, sudah dimakamkan keluarganya, Senin (14/11). Sementara, korban banjir di Mengoyo, Jembrana terpaksa mengungsi tidur ke merajan.

Jasad si bungsu Satrio Arya Pamungkas alias Rio sebelumnya ditemukan sekitar satu meter sebelah barat Pura Batu Bolong di Pantai Yeh Gangga, Tabanan, Minggu malam pukul 20.35 Wita atau berselang 5 jam pasca terseret arus Sungai Yeh Empas. Jenazah bocah berusia 5 tahun ini pun telah dimakamkan keluarganya di Setra Tunggal Sari, Kampung Jawa, Kota Tabanan, Senin pagi sekitar pukul 10.30 Wita.

Sedangkan jasad kakaknya, Dinda Mulia Pamungkas (bocah kelas IV SD), hingga Senin kemarin belum ditemukan. Petugas gabungan dari Tim SAR dan kepolisian terus melakukan pencarian dengan menyisir perairan sekitar Pantai Yeh Gangga. Pantauan, penyisiran kemarin juga dilakukan petugas sepanjang jalur
Sungai Yeh Empas menuju Pantai Yeh Gangga.

Namun, hingga kemarin petang pukul 18.00 Wita, upaya pencarian belum membuahkan hasil. Meski demikian, petugas gabungan masih bertahan di lokasi. Demikian pula ibunda kakak adik korban terseret, Estigasih, 38. Ibu muda yang kehilangan dua anaknya ini tampak didampingi kerabatnya dan keluarga besar Pondok Pesantren Salafiyah Tabriyatul Islam, Banjar Gerang, Desa Dajan Peken, Kecamatan Tabanan.

Selama ini, korban kakak adik Dinda Mulia Pamungkas dan Satrio Arya Pamungkas alias Rio, memang menjadi penghuni Pondok Pesantren Salafiyah Tabriyatul Islam di Banjar Gerang. Demikian pula, lima korban terseret arus Sungai Yeh Empas lainnya, yang berhasil selamat dari maut, bernaung di Ponpes tersebut: Bima Pamungkas, 7 (bocah kelas II SD), Rifan, 10 (kelas V SD), Jasmin, 8 (kelas III SD), Safik, 7 (kelas II SD), dan Indah (siswi SMA).

Karena itu, Ponpes Salafiyah Tabriyatul Islam yang berlokasi di Jalan Elang Nomor 3 Banjar Gerang, Desa Dajan Peken, Kota Tabanan, Senin kemarin didatangi banyak warga Muslim sekitar untuk menyampaikan rasa duka.

Sementara, ibunda bocah kakak adik korban terseret arus sungai, Estigasih, sangat terpukul atas cobaan dahsyat yang dialaminya. Ibu tiga anak ini terus meratapi kepergian dua dari tiga buah hatinya. Apalagi anaknya nomor dua, Dinda Mulia Pamungkas, hingga Senin kemarin belum ditemukan. Sedangkan suaminya, Mulyanto, 45, saat ini masih berada di tempat kerjanya di Sumatra. Estigasih menceritakan dirinya sudah mendapat firasat buruk melalui mimpi aneh, jauh sebelum musibah menimpa dua anaknya. Dalam mimpinya itu, dia melihat kedua buah hatinya yang kemudian jadi korbat terseret arus, Dinda dan Rio, menyeberangi sungai dengan menggunakan tangga.

“Mimpi aneh itu terjadi sekitar 10 hari lalu. Dalam mimpi, saya yang menyeberangkan Dinda dan Rio menggunakan tangga agar bisa melintasi sungai. Kedua anak saya itu berhasil menyeberang hingga ke tepi sungai dengan selamat. Tapi, saya masih tertinggal di seberang,”kenang Estigasih, terbata.

Estigasih awalnya sangat yakin mimpi aneh itu pertanda bagus. Pasalnya, dalam mimpi tersebyt, kedua buah hatinya mampu menyeberang dengan berjalan di atas tangga, di tengah terjangan arus sungai yang kuat. “Saya pikir ini pertanda bagus, karena berhasil mengantarkan anak menyeberang ke sungai dengan tangga. Tapi ternyata musibah yang terjadi. Bahkan, Dinda sampai sekarang belum ditemukan,” keluh Estigasih.

Dikisahkan Estigasih, beberapa jam sebelum musibah menimpa Dinda dan Rio, Minggu, dirinya sempat bercengkrama dengan kedua buah hatinya itu di Ponpes Salafiyah Tarbiyatul Islami---tempat mereka dititip asuh dan dididik menjadi santri. Hal itu dilakukan sebelum Estigasih berangkat ke Denpasar menuju tempat kerjanya sebagai Ibu Asrama di sebuah SMK.

“Saya sempat ngobrol dengan kedua anak saya itu sekitar 2 jam. Eh, 5 jam kemudian, saya mendapat telepon yang mengabarkan kedua anak saya terseret arus sungai,” tutur Estigasih seraya mengaku sudah mengabarkan musibah yang menimpa kedua anaknya kepada sang suami di Sumatra, Mulyanto. Pasangan Mulyanto dan Estigasih dikaruniai tiga anak dari pernikahannya. Putra sulungnya, Yudistira, 17, yang kini duduk di kelas II SMA, tinggal terpisah bersama ayahnya di Sumatra. Sedangkan Dinda dan Rio yang masih kecil, dititip di Ponpes Salafiyah Tabriyatul Islam, Desa Dajan Peken. Estigasih sendiri kesehariannya sebagai Ibu Asrama sebuah SMK Kesehatan di Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Badung.

Namun, Dinda dan Rio telah pergi untuk selamanya gara-gara musibah terseret arus saat mandi bersama lima rekannya sesama penghuni Ponpes, di Sungai Yeh Empas, Tabanan, Minggu sore pukul 15.30 Wita. Lima korban lainnya berhasil selamat dari maut. Namun, salah satu dari lima korban selamat itu, Bima Pamungkas, 7, ditemukan dalam kondisi pingsan dan terluka serius, hingga harus dilarikan ke RSUD Tabanan untuk menjalani perawatan intensif. Hingga Senin kemarin, Bima Pamungkas masih dirawat.

Sementara itu, dua keluarga korban bencana banjir di Banjar Tembles, Desa Penyaringa, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Minggu dinihari, terpaksa mengungsi karena rumah mereka remuk diterjang air bah. Dua keluarga beranggotakan 8 orang itu harus rela mengungsi tidur berdesak-desakan di merajan (pura keluarga) yang berada di sekitar pekarangan rumahnya.

Dua kepala keluarga (KK) korban banjir di Desa Penyaringan ini masing-masing keluarga Dewa Gede Suyasa, 51, dan keluarga Dewa Ketut Metra, 59. Korban Dewa Ketut Metra dan Dewa Gede Suyasa merupakan kakak adik, yang rumahnya berada dalam satu pekarangan.

Suyasa mengakui, dia bersama istri dan anak-anaknya serta keluarga kakaknya, Metra, terpaksa harus rela tidur berdesakan di merajan, karena kondisi rumahnya belum memungkinkan untuk ditempati. Selain itu, mereka juga pilih mengungsi ke merajan karena takut terjadi banjir susulan.

“Kami semua harus tidur berdesakan sini (merajan) karena takut ada banjir susulan. Lagipula, rumah kami hancur. Kasur untuk tidur dan perabotan lainnya juga sudah tidak ada lagi, karena lenyap dihanyutkan banjir. Pokoknya, seisai rumah hanyut, termasuk TV,” papar Suyasa saat ditemui di merajannya, Senin sore. “Karpet untuk alas tidur saja minjam dari tetangga,” imbuhnya. Menurut Suyasa, hingga kemarin sore pihaknya belum mendapatkan bantuan berupa makanan dan air bersih. “Karenanya, kami hanya bergantung pada belas kasihan dari para tetangga dan kerabat dekat,” keluh Suyasa.

Sebenarnya, lanjut ayah satu anak ini, banyak pihak yang telah mengunjunginya selaku korban banjir, baik petugas dari Dusun, Desa, hingga Kecamatan. Namun, belum ada bantuan sedikit pun dari mereka. “Untuk makan dan minum, kami dibawakan oleh tetangga sekitar. Kalau mau ngopi, juga harus meminta air panas kepada tetangga, karena sudah tak punya kompor lagi.”

Bukan hanya itu. Putri semata wayang Suyasa, yakni Dewa Ayu Rai Lastiani, 17, yang kini duduk di kelas III SMA, tidak bisa sekolah karena semua pakaian dan sepatu, serta tas dan bukunya terendam lumpur. “Tadi (kemarin) anak saya sampai tidak sekolah, semua peralatan sekolahnya hancur,” terang Suyasa. Dikonfirmasi secara terpisah, Camat Mendoyo I Nengah Ledang mengakui sudah melaporkan musibah banjir tersebut kepada Bupati Jembrana Putu Artha dan Kesabang Linmas Pemkab. Hanya saja, Bupati Putu Artha masih berada di luar daerah, sehingga belum bisa meninjau langsung ke lokasi bencana.

sumber : NusaBali
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

Aktivitas Vulkanik Masuk Tahap Kritis Kawah Keluarkan Uap, Tercium Bau Belerang

Suasana persembahyangan para pengungsi di Gor Swecapura AMLAPURA - Aktivitas vulkanik Gunung Agung di Karangasem masuk tahap kritis. P...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen