Menyingkap Berita Tanpa Ditutup Tutupi
Home » » Korban Luka Bertambah Jadi 83 Orang, Pascagempa, Wisatawan Asing Tetap Enjoy di Bali

Korban Luka Bertambah Jadi 83 Orang, Pascagempa, Wisatawan Asing Tetap Enjoy di Bali

Written By Dre@ming Post on Sabtu, 15 Oktober 2011 | 8:35:00 AM


Sabtu, 15 Oktober 2011, 08:29

Korban Luka Bertambah Jadi 83 Orang

DENPASAR - Korban terluka yang terdata akibat Gempa Bali berkekuatan 6,8 SR, Kamis (13/10), terus bertambah. Hingga Jumat (14/10) sore, jumlah korban luka yang dilarikan ke RS terdata mencapai 83 orang dari semula 58 korban. Ketugian materi ditaksir mencapai miliaran rupiah, di mana kerugian di kawasan Kota Denpasar saja tembus Rp 1 miliar.

Data yang dihimpun dari Pusat Operasi Pengendalian Operasi (Pusdalop) Penanggulangan Bencana Pemprov Bali, Jumat sore, ada 13 korban terluka yang hingga kini masih dirawat di rumah sakit. Dari jumlah itu, 5 korban masih dirawat di RS Sanglah yakni Candra Dharma Saputra, 8, Ni Made Kariani, 36, Ayu Diah Wulandari, 17, Wahyu Dwi Susan, 16, dan I Made Wardana, 17.

Empat (4) korban lainnya tersebar di rumah sakit berbeda di Denpasar, masing-masing Sri Ayuni, 35, dan Suata, 46 (RS Kasih Ibu), Ni Wayan Suartini (RS Surya Husada Denpasar), dan Paskal (RS Dharma Yadnya Denpasar). Sementara, 4 korban lagi yang semuanya berstatus pelajar masih dirawat di RSUD Kapal, Kecamatan Mengwi, Badung. Korban terluka yang dirawat di RSUD Kapal itu termasuk dua siswa SMP: Rio Efandi, 15 (SMPN 1 Mengwi) dan Eka Yuliasari (SMPN 1 Abiansemal, Badung), serta Ni Made
Darma, 66 (warga Desa Buduk, Mengwi).

Kepala UPT Pusdalops Penanggulangan Bencana Pemprov Bali, Putu Anom Agustina, menyebutkan total korban terluka akibat yang dilarikan ke RS di seluruh Bali mencapai 83 orang. “Sebagian besar dari mereka sudah dibolehkan pulang dari RS,” ujar Anom Agustina.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika sudah sempat melakukan pengecekan di lapangan, termasuk ke RS Sanglah. “Korban luka-luka akibat gempa kebanyakan sudah diperbolehkan pulang. Tapi, Pemprov tetap memantau di lapangan hingga siaga melibatkan Kesbanglimas dan Dinas Sosial. Pak Gubernur juga masih di lapangan sekarang (kemarin),” terang Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali, Ketut Teneng.

Sedangkan Kepala Dinas Sosial Bali, Ketut Susrama kemarin turun melakukan pendataan terkait dengan rencana dikucurkannya bantuan darurat kalau ada korban parah. “Bantuan darurat sudah disiapkan. Relawan masih turun melakukan pendataan. Kami sedang siaga, sekalian koordinasi dengan Pemkot Denpasar dan Pemkab lainnya di Bali. Besok (hari ini) mungkin kita pastikan di mana saja bantuan itu dikucurkan,” jelas Susrama. Pada hari yang sama kemarin, Walikota Denpasar Ida Bagis Rai Dharmawijaya Mantra beserta sejumlah pejabat juga turun ke beberapa lokasi yang kena imbas gempa. Tempat pertama yang disambangi Walikota adalah SMKN 2 Denpasar di Jalan Pendidikan Denpasar Selatan, di mana 24 siswanya terluka.

Ketika Walkikota datang kemarin pagi, terlihat sejumlah pekerja dan puluhan siswa SMKN 2 Denpasar sedang sibuk membersihkan puing-puing yang berserakan akibat gempa. Konon, pihak SMKN 2 Denpasar menderita kerugian metari Rp 70 juta akibat keruskaan gedung pasca diamuk gempa. “Tapi, itu kerugian yang kita perkirakan akibat runtuhan genteng dan perawatan saja, belum yang lain seperti retaknya tembok,” ujar Kepala Sekolah SMKN 2 Denpasar, I Wayan Sarjana. Walikota Rai Mantra sendiri berjanji pemerintah akan menanggung biaya pengobatan dan perawatan puluhan siswa korban gempa. “Untuk pengobatan, kita tanggung, apalagi ini bencana,” tandas Rai Mantra yang kemarin didampingi Sekda Kota Denpasar, AAN Rai Iswara.

Rai Mantra juga mengintruksikan Dinas Tata Ruang dan Perumahan Denpasar untuk melakukan koordinasi dengan pihak sekolah, sehingga perbaikan dapat dilakukan secepat mungkin. “Saya minta agar kerusakan bangunan secepatnya diperbaiki, sehingga proses belajar anak-anak bisa dilaksanakan lagi,” pintanya.

Jumat kemarin, Rai Mantra dan pejabat lainnya juga mengunjungi Pura Dalem Sudha, Pura Kahyangan Sakti Desa Pakraman Sidakarya, Denpasar Selatan yang remuk diamuk gempa. Kepada pangempon Pura Dalem Sudha, Walikota mengimbau agar segera dilakukan perbaikan bagian pura yang rusak dan dilanjut penyucian kembali melalui prosesi upacara. Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Denpasar diinstruksikan Walikota untuk segera merancang program Manajemen Krisis. “Saya minta agar segera merancang program Manajemen Krisis terhadap bangunan atau gedung publik dalam menghadapi keadaan darurat seperti gempa, kebakaran, dan bencana lainnya,” tandas putra mantan Gubernur Bali Prof Dr Ida Bagus Mantra (almarhum) ini.

Berdasarkan kalkulasi sementara, kerugian materi akibat gempa di Kota Denpasar ditaksir mencapai Rp 1 miliar. Namun, Pemkot Denpasar menyiapkan dana penanggulangan Rp 1,5 miliar yang diambil dari ‘Pos Tak Terduga’ APBD. “Dari Pos Tak Terduga kita anggarkan Rp 1,5 miliar, sekarang kita masih data berapa jumlah kebutuhannya,” terang Sekkot Denpasar, AAN Rai Iswara.

Sejumlah gedung sekolah dan perkantoran di kawasan Denpasar rusak akibat gempa, selain juga sejumlah rumah penduduk. Sekolah yang rusak, antara lain, SMKN 2 Denpasar, SKMN 1 Denpasar, SD Saraswati 3 Denpasar, dan SMPN 7 Denpasar. Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sedikitnya 71 bangunan rusak akibat gempa, terdiri dari 39 rumah penduduk, 16 sekolah, 4 tempat suci, 7 kantor pemerintah, 2 toko, dan 3 rumah sakit/puskesmas. "Sebagian besar kerusakan atap runtuh dan tembok retak. Tidak ada hotel yang rusak," ungkap Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo.

Sementara itu, tiga rumah milik keluarga miskin di kawasan Pupuan, Tabanan remuk akibat diamuk gempa. Penghuninya pun terpaksa mengungsi, karena rumeh mereka nyaris rata dengan tanah. Ketiga keluarga miskin yang kehilangan rumah ini masing-masing I Wayan Darna, 46 (Banjar Padangan Kaja, Desa Pupuan), Wayan Begik alias Pan Sulah (Banjar Padangan Kaja, Desa Pupuan), dan Ketut Sumerta, 45 (Banjar Padangan Kelod, Desa Pupuan).

Rumah keluarga Wayan Darna nyaris rata dengan tanah, di mana temboknya roboh. “Beruntung, kami sekeluarga selamat, karena tidak di rumah hari ini. Kalau kejadiannya malam hari, mungkin kami sekeluarga ikut jadi korban,” tutur Wayan Darna di Pupuan, Jumat kemarin. “Saya sekuarga menunggu bantuan bedah rumah dari pemerintah. Kami sudah masuk daftar tunggu,” imbuhnya.

Darna sendiri khawatir rumahnya yang sudah remuk itu nantinya ambrol menimpa tetangga yang tinggal di bawahnya. “Saya takut rumah tetangga tertimpa dan jadi korban rumah saya. Kalau begitu, saya yang nanggung,” keluhnya. Kondisi serupa juga terjadi pada rumah dua keluarga miskin lainnya, Wayan Begik alias Pan Sulah dan Ketut Sumerta.

Perbekel Padangan, Made Sumanta, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemkab Tabanan untuk meminta dana bantuan penangulangan pasca gempa. “Tadi Dinas Sosial sudah memberikan bantuan kepada korban gempa yang rumahnya jebol,” ujar Sumanta, Jumat kemarin. Bantuan yang diterima warga miskin ini, antara lain, berupa tikar, selimut, panci, minyak goreng, dan sarden.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Badan Kesbang Pollinas Tabanan, Wayan Gde Artha Adnyana, mengatakan petugasnya masih turun ke lapangan melakukan identifikasi kerusakan. Dari kerusakan itu selanjutnya dikalkulasi kerugiannya, sebelum dilaporkan ke Bupati Tabanan Putu Eka Wiryastuti.

Artha Adnyana mengatakan, bantuan dana penanggulangan bencana akan diambil dari Pos Tak Terduga APBD. “Saat ini kami masih melakukan pendataan atau pengecekan ke bawah. Hasil kalkulasi itu selanjutnya kita laporkan ke pimpinan,” jelasnya.

Akibat Gempa Bali Satu Wisatawan Selandia Baru Patah Kaki

DENPASAR - Seorang wisatawan asal Selandia Baru bernama Heather Bradley, 51, mengalami patah kaki saat Bali diguncang gempa 6,8 skala Richter, Kamis (14/10).

Akibat patah kaki tersebut, Bradley harus menjalani perawatan di Rumah Sakit karena salah satu kakinya divonis mengalami keretakan.

Saat guncangan terjadi, Bradley yang juga kepala sekolah di sebuah sekolah di Bali sedang mengikuti workshop. Tanpa ada peringatan, ia melihat gedung tiba-tiba mengguncang, puing-puing atap berjatuhan, orang-orang berlarian menuju tangga turun.

Tiba-tiba guncangan kedua datang lebih keras. "Dia berada di puncak saat tangga berguncang. Semua orang terlempar saat itu," kata Le Vaillant, adiknya.

Dalam kondisi panik tersebut, Bradley terjatuh dari tangga dan diinjak-injak peserta workshop lainnya. Kemungkinan besar kakinya yang retak tersebut akibat akibat terjatuh di tangga saat hendak menyelamatkan diri.

Pascagempa, Wisatawan Asing Tetap Enjoy di Bali

DENPASAR - Pascagempa yang mengguncang Bali, Kamis (13/10) ternyata tidak berdampak negatif bagi wisatawan yang tengah berlibur di Bali.

Mereka tetap menikmati liburannya sesuai dengan jadual yang sudah direncanakan sebelumnya.

Public Relation Manager Hotel Sanur Beach, Candy Juliani mengatakan tamu-tamunya yang sebagian besar berkebangsaan Eropa tetap betah tinggal di hotelnya.

"Mereka tetap enjoy saja menginap di sini, berenang di pantai dan mereka mengaku tidak takut, jadi tak ada yang
ceck-out lebih awal," papar Candy saat dihubungi Jumat (14/10).

Saat ini hunian kamar hotelnya menmcapai 90 persen, dan lebih dari 50 persen wisatawan dari Eropa.



sumber : NusaBali, MICOM
Share this article :

Menuju Bali I 2018

Visitors Today

Recent Post

Popular Posts

Hot Post

PVMBG Belum Pastikan Penurunan Status, GA Masih Alami Erupsi

Visual gunung agung dari desa Suwat Gianyar sabtu(16/12) pada pukul 6.00 dan pukul 7.30 wita Hembusan asap berwarna putih dan kelabu ...

 
Support : Dre@ming Post | Dre@aming Group | I Wayan Arjawa, ST
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Bali - All Rights Reserved
Template Design by Dre@ming Post Published by Hot News Seventeen